Tampilkan postingan dengan label Program Sekolah Gratis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Program Sekolah Gratis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2009

Program Sekolah Gratis: Betulkah? (Opini Masyarakat)

Belakangan ini muncul iklan televisi keluaran Diknas yang mengkampanyekan program sekolah gratis. Kemunculan iklan ini sekilas memberikan secercah harapan akan adanya program pendidikan yang dapat diakses oleh setiap orang Indonesia tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Lewat program ini, pemerintah dan Diknas ingin agar setiap orang tua mau menyekolahkan anaknya tanpa perlu lagi memikirkan berapa biaya sekolah yang harus ditanggung oleh mereka. Di atas permukaan, program ini terlihat bagus, hebat, dan luar biasa. Tapi iklan ini termasuk menyesatkan! Iklan ini menyesatkan karena orang tua murid dibuat berpikir bahwa biaya sekolah itu betul-betul gratis 100%. Padahal komponen biaya belajar di sekolah bukan cuma uang iuran bulanan saja. Kalau memang betul pendidikan itu gratis maka betulkah seragam sekolah juga gratis? Kalau anaknya bertambah besar, mungkinkah anak tersebut mendapatkan seragam sekolah yang baru dan lebih besar tanpa harus membayar? Kalau sekolah itu gratis, betulkah buku-buku siswa juga diberikan oleh sekolah? Masih perlukah siswa mencari buku di luar sekolah? Kalau memang sekolah itu gratis, masih mungkinkah siswa bebas dari pungutan-pungutan ekstra tidak jelas yang terkadang dilakukan oleh pihak sekolah? Dan jika sekolah itu betul-betul gratis, masih perlukah orang tua murid membayar uang masuk/pangkal saat mendaftarkan anaknya masuk ke sekolah negeri? Masih adakah yang namanya pungutan uang pembangunan sekolah sebagai persyaratan agar seorang calon siswa diterima di sebuah sekolah? Kalau belum ada jawaban tegas yang bisa diberikan pada semua pertanyaan itu, maka kampanye pendidikan gratis di Indonesia adalah kebohongan publik.
Hati-hati kalau mau menyatakan pendidikan gratis di negara ini.

Bulan lalu, saya pernah menulis esai mengenai penyebab mahalnya biaya sekolah di Indonesia yang mana hal tersebut disebabkan oleh tiga faktor; seragam, buku, dan biaya-biaya sekolah yang tidak jelas. Peniadaan uang iuran sekolah sama sekali tidak membuat biaya sekolah menjadi gratis. Menjadi murah iya, gratis . . . nanti dulu. Kalau mau bikin pendidikan gratis maka:

• Seragam HARUS GRATIS
• Buku HARUS GRATIS
• Biaya sekolah tidak jelas HARUS DIHILANGKAN

(sumber : http://todoeducare.posterous.com/program-sekolah-gratis-betulkah)

Program Sekolah Gratis

Pada tahun ajaran baru seperti saat ini, program sekolah gratis yang diterapkan pemerintah sangat dirasakan manfaatnya. Orangtua murid tidak lagi dipusingkan dengan uang gedung atau uang SPP sang anak.

Seperti yang dituturkan Iman (45), ia hanya mengeluarkan biaya untuk membeli peralatan sekolah bagi putrinya, Jihan Ramadhani (6). "Untuk tahun ajaran baru ini, saya hanya mengeluarkan Rp 1,5 juta. Itu jumlah yang wajar karena di dalamnya sudah termasuk peralatan sekolah dan buku-buku pelajaran, apalagi anak saya baru kelas I," tuturnya saat ditemui di SD Negeri 02 Pagi Lebak Bulus, Jakarta, Selatan, Senin (13/7).

Sejak beberapa bulan yang lalu, Iman telah mencicil membeli peralatan sekolah bagi putrinya. Hal itu dilakukan agar mendapat harga yang lebih murah.

Pendapat serupa dikatakan Firdaus (41). Untuk tahun ajaran 2009/2010 ia hanya mengeluarkan dana Rp 500.000. Anaknya, Nurul (9), telah duduk di kelas III sehingga tidak memerlukan peralatan sekolah yang baru. "Paling-paling beli alat tulis dan buku pelajaran. Kalau seragam dan tas masih bisa dipakai," akunya.

Indri (37), orangtua murid lainnya, mengamini dua pendapat sebelumnya. Tak banyak biaya yang ia keluarkan untuk putranya, Wendy (8). Seragam dan buku-buku tulis tahun ajaran lalu juga masih bisa digunakan. "Kalau untuk buku pelajaran nanti pakai punya kakaknya saja," kata Indri.

Ibu dua anak ini mengaku, pihak sekokah SD 02 Pagi, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sama sekali tidak memberatkan murid-muridnya, bahkan beberapa siswa yatim mendapat bingkisan peralatan seragam sekolah. "Kalau ada sedikit pungutan itu wajar, buat anak-anak kami juga," ujarnya. (sumber : Kompas, Juli 2009)